Monday, 29 June 2020

Cerita Batu Menangis dari Kalimatan Barat



Pada zaman dahulu kala, ada sebuah bukit kecil yang jauh dari pemukiman penduduk, di daerahKalimantan Barat hiduplah seorang janda yang sangat miskin bersama satu anakgadisnya.

Anak gadis nya itu sangat cantik, bentuk tubuhnya sangat indah, rambutnya terurai mengikal sampai ke mata kaki. Poni rambutnya tersisir dengan rapi dan keningnya sehalus batu cendana. Tetapi sayang nya ia mempunyai sifat yang buruk.
 
Gadis itu sangat pemalas, tak pernah mau membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Dan kerjanya hanya bersolek setiap hari.

Selain pemalas, anak gadis itu juga sikapnya manja sekali. Segala permintaannya mesti dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu pada ibunya maka harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari membanting tulang bekerja keras untuk mencari sesuap nasi.

Pada suatu hari anak gadis itu diajak oleh ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu sangat jauh dari rumahnya, sehingga mereka harus berjalan kaki yang melelahkan. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan menggunakan pakaian yang bagus serta bersolek supaya orang yang ada dijalan nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara itu ibunya berjalan dibelakang sambil membawa keranjang dengan memakai pakaian yang sangat dekil. Karena mereka hidup ditempat yang terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu merupakan ibu dan anak.

Ketika mereka memasuki desa, orang-orang desa mulai memandangi mereka. Mereka begitu sangat terpesona ketika melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. Tetapi ketika melihat orang yang berjalan dibelakang gadis itu, sungguh sangat terbalik keadaannya. Hal itu membuat banyak orang bertanya-tanya.

Di antara banyak orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya pada gadis itu, “Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan dibelakang itu adalah ibumu?”
Tetapi, apa jawaban anak gadis itu

“Bukan,” katanya dengan angkuh. “Ia adalah pembantuku !” lanjutnya lagi.

Kedua ibu dan anak itu pun kemudian meneruskan perjalanannya. Tak seberapa jauh, ada pemuda yang mendekatinya lagi dan bertanya kepada anak gadis itu.
“Hai, manis. Apakah yang berada dibelakangmu itu ibumu?” “Bukan, bukan,” jawab gadis itu sambil mendongakkan kepalanya. ” Ia itu budakk!”

Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang disepanjang jalannya yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya seperti itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu ataupun budaknya.

Pada awalnya mendengar jawaban putrinya yang durhaka apabila ditanya orang, si ibu masih bisa menahan diri. Tetapi setelah berulang kali didengarnya jawabannya masih tetap sama dan yang sangat menyakitkan hati, pada akhirnya si ibu yang malang itu tak bisa menahan diri lalu ia berdoa.

“Ya Tuhan, hamba sudah tidak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba dengan teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anakku yang durhaka ini ! Hukumlah dia….” Doa sang ibu.

Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh dari gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan itu diawali dari kaki. Ketika perubahan itu sudah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis dan memohon ampun kepada ibunya.

” Oh, Ibu..ibu..ampunilah aku, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu…Ibu…ampunilahanakmu ini..” Anak gadis itumeratapi nasib dan menangismemohon pada ibunya. Namun,semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi sebuah batu yang berbentuk manusia. Walaupun sudah menjadi batu, tetapi orang masih bisa melihat bahwa kedua matanyamasih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh sebab itu, batu yang berasal dari gadisyang mendapat kutukan ibunya itu diberinama ” Batu Menangis “.

Legenda batu menangis adalah Cerita Rakyat Kalimantan Barat yang sangat terkenal di Nusantara. Cerita ini biasanya masuk dalam buku Kumpulan Kumpulan Cerita Rakyat dari Kalimantan terbaik. Kisah Rakyat Batu Menangis menceritakan seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Pesan dari cerita ini amat jelas, siapapun yang durhaka terhadap orang tua terutama Ibunya, maka dia akan mengalami malapetaka dimasa yang akan datang. Yuk sama-sama kita ikuti cerita yang diambil dari Kumpulan Cerita Cerita Rakyat Nusantara Terbaik ini.

Thursday, 7 May 2020

Sejarah asal nama kota Bekasi


Menurut sejarahnya, asal muasal kota Bekasi berawal pada saat pemerintahan Kerajaan Tarumanegara dipimpin oleh Raja Purnawarman. Pada saat pemerintahannya, beliau membangun saluran irigasi yang dikenal dengan Chandrabhga yang melewati wilayah Bekasi sekarang ini. Saluran irigasi ini sekarang berubah menjadi Kali Bekasi.

Menurut Poerbatjaraka, ahli bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno kata Chandrabhaga berasal dari kata Chandra yang berarti “bulan” (atau sasi dalam bahasa Jawa Kuno) dan Bhaga berarti “bagian”. Jadi, secara etimologis kata Chandrabhaga berarti bagian dari bulan.

Kata Chandrabhaga berubah menjadi Bhagasasi karena dalam perkembangannya kata Chandra sering diganti dengan kata Sasi, dan penyebutannya sering dibalik, sehingga terbentuk kata Bhagasasi. Seiring waktu orang-orang banyak yang mengucapkan dengan singkat yang menjadi Bhagasi. Kata Bhagasi ini dalam bahasa Belanda seringkali ditulis “Bacassie” kemudian berubah menjadi Bekasi hingga kini.

Sunday, 19 April 2020

Dari nama kuntilanak , inilah asal usul kisah kota Pontianak



Sejarah Kota Pontianak Menurut V.J V

Menurut sejarahwan Belanda V.J Verth dalam bukunya Borneos Wester Afdeling, yang isinya sedikit berbeda dengan cerita yang beredar di kalangan masyarakat. Ditulis dalam bukunya, Belanda memasuki Kota Pontianak tahun 1773 dari Batavia. Disebutkan bahwa Syarif Abdurrahman Alkadrie merupakan anak dari Al Habib Husin yang meninggalkan Kerajaan Mempawah untuk merantau. Dalam perjalanannya, Syarif Abdurrahman Alkadrie menetap di Banjarmasin dan menikah dengan adik Sultan Banjar Sunan Nata Alam dan berhasil dilantik menjadi seorang pangeran. Menjalankan tugasnya sebagai pangeran, Syarif Abdurrahman berhasil dalam perniagaan dan mengumpulkan cukup uang untuk modal mempersenjatai kapal miliknya yang digunakan untuk melawan penjajahan Belanda.

Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif berhasil membajak kapal Belanda, juga kapal Inggris dan Prancis. Dari hasil pembajakan kapal para penjajah inilah Syarif Abdurrahman berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah banyak yang akan digunakan Beliau untuk membangun pemukiman di percabangan Sungai Kapuas. Yang kini derah ini dinamakan Pontianak

Asal Usul Nama Pontianak

1. Versi pertama : Nama Hantu

Banyak cerita menganggap bahwa nama Pontianak berasal dari nama hantu permpuan kuntilanak. Diceritakan bahwa ketika Syarif Abdurrahman bersama rombongan untuk menyisir hutan agar dapat dijadikan tempat pemukiman para rombongan diganggu makhluk astral dari arah hutan. Berada di delta pertemuan Sungai Kapuas Kecil, Sungai Kapuas Besar dan Sungai Landak para rombongan diganggu oleh suara jeritan dan tangisan mengerikan yang datangnya dari arah tengah hutan yang diduga berasal dari makhluk astral, kuntilanak.

Banyak anggota rombongan yang merasa ketakutan ingin segera menyelesaikan pekerjaan kemudian pulang. Karena gangguan yang dialami oleh para rombongan, Syarif Abdurrahman merasa bahwa suara-suara itu sangat mengganggu rombongannya dan menghambat pekerjaan. Dengan inisiatifnya, Syarif Abdurrahman membawa meriam ke hutan dan menembakkan meriam tersebut kearah sumber suara. Dan benar saja, suara-suara mengerikan tersebut berangsur-angsur menghilang sehingga pekerjaan dapat dilakukan dan para rombongan merasa tenang.
Namun, ada yang mengatakan bahwa suara mengerikan tersebut berasal dari kumpulan perompak yang bersembunyi di dalam hutan agar tidak diketahui oleh siapapun. Sebab daerah tersebut masih tertutup rimbunnya hutan sehingga akan terasa aman bagi mereka.

2. Versi Kedua : Ayunan Anak

Kota Pontianak merupakan suku Melayu, yang diceritakan bahwa Kota Pontianak berasal dari ayunan anak yang berada di sekitar Masjid Jami’ yang biasa digunakan oleh anak-anak yang keluarganya bekerja.

3. Versi Ketiga : Pohon Punti

Pohon punti atau Pohon Ponti berarti pohon-pohon yang tinggi. Pada jaman itu, Pulau Klimantan dikenal sebagai kepulauan yang memiliki pohon-pohon tinggi yang besar. Penyebutan pohon ponti ini terbukti dari isi surat antara Husein bin Abdul Rahman Al-Aidrus kepada Syarif Yusuf Al-Kadrie.

4. Versi keempat : Pontian

Beawal dari posisi Kota Pontianak yang strategis sebagai Pontian (Pemberhentian atau tempat singgah). Banyak pelaut ataupun pedagang yang menjadikan lokasi ini sebagai tempat singgah sementara. Di Malaysia juga terdapat tempat bernama Pontian yang digunakan untuk tempat singgah sementara atau tempat pemberhentian
5. Versi Kelima : Kun Tian
6.
Kun Tian merupakan pelafalan bahasa mandarin yang berarti “tempat pemberhentian”. Logat masyarakat tionghoa biasanya memberikan penambahan lafal di akhir kalimat atau kata namun tidak mengurangi atau menambah arti dari kalimat yang sebenarnya, seperti uang(nga), mobil(aa). Sehingga dalam pelafalan Kun Tian menjadi Kun Tian(na), dan sebagian besar orang tua tionghoa di Pontianak masih menggunakan Kun Tian untuk menyebut Pontianak. (
6. Versi Keenam : Pintu Anak


Pintu Anak yang dimaksud ialah dua anak sungai yakni Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Dimana, lokasi pertama pemukiman di Pontianak berada di delta Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak.

Kisah Asal Usul nama Surabaya


Pada zaman dahulu, di sebuah lautan. Hiduplah dua hewan buas yang sama-sama angkuh dan tidak mau kalah. Kedua hewan tersebut adalah seekor Ikan Hiu dan seekor Buaya. Mereka sering berselisih dan berkelahi ketika memperebutkan makanan. Karena keduanya sama-sama kuat, ganas dan sama-sama cerdik. Perkelahianpun berlangsung sangat lama. Setelah bertarung berkali-kali dan tetap tak bisa saling mengalahkan, Hiu Sura dan Buaya itu pun mengadakan kesepakatan. Karena, kedua hewan tersebut sudah merasa bosan dan lelah jika harus berkelahi. Akhirnya, keduanya sepakat mengadakan perjanjian tentang pembagian area kekuasaan.

Dengan adanya perjanjian tersebut. kedua hewan tersebut tidak pernah berkelahi lagi. Karena, keduanya sudah sepakat untuk berdamai, dan saling menghormati daerah kekuasaannya masing-masing. Namun, selang beberapa waktu yang udah cukup lama. Ikan-ikan yang menjadi mangsa Hiu Sura mulai habis di lautan kekuasaannya. Akhirnya, ia pun bersembunyi-sembunyi mulai mencari mangsanya di muara sungai agar tidak di ketahui oleh Buaya. Namun, lama-kelamaan Buaya pun mengetahuin bahwa Hiu Sura sudah melanggar perjanjiannya.
Karena ulah Hiu Sura yang melanggar perjanjian. Akhirnya, mengakibatkan pertarungan yang sangat sengit antara kedua hewan tersebut. mereka saling gigit, menerkam dan memukul. Buaya mendapat gigitan Sura di ujung ekor sebelah kanan, sehingga ekor tersebut selalu membengkok ke kiri. Sedangkan Sura tergigit ekornya hingga nyaris putus.

Karena, sudah sama-sama terluka sangat parah. Keduanya menghentikan perkelahian tersebut. hiu Sura pun mengalah dan kembali ke daerah kekuasaannya. Buaya yang menahan rasa sakitnya pun merasa menang karena sudah mempertahankan daerah kekuasaannya.

Setelah perkelahian yang sangat sengit tersebut. kedua hewan itu terluka sangat parah dan akhirnya keduanya mati.

Pertarungan antara Ikan Hiu yang bernama Sura dengan Buaya ini sangat berkesan di hati masyarakat Surabaya. Namun ada juga yang berkata surabaya berasal dari kata sura dan baya.Sura berarti jaya baya berarti selamat jadi surabaya berarti selamat dalam menghadapi bahaya
Oleh karena itu, nama Surabaya selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa ini. Dari peristiwa inilah kemudian dibuat lambang Kota Madya Surabaya yaitu gambar ikan sura dan buaya.


Pesan moral dari Cerita Rakyat Jawa Timur : Asal Usul Kota Surabaya adalah jangan selesaikan masalah dengan kekerasan. Cari penyelesaian yang dapat diterima oleh semua pihak.

Thursday, 1 November 2018

Kisah Impian Kura-Kura


Di sebuah danau, hiduplah seekor kura-kura. Ia selalu berada di sana, dan tak pernah pergi ke mana pun.
Suatu sore, Kura-kura duduk sendiri di sebuah batu tepi danau. Ia menikmati udara sore yang cerah. Tiba-tiba, seekor kupu-kupu terbang melintas. Kupu-kupu itu sangat anggun, berpindah dari satu bunga ke bunga yang lain.



"Alangkah indahnya kupu-kupu itu. Andai aku bisa seindah Kupu-kupu," gumam Kura-kura.
Tak lama kemudian, seekor kelinci lewat di depannya dan berlari sangat kencang. Ia bisa berlari dengan sangat lincah.
"Wah, hebat sekali Kelinci, bisa berlari sangat kencang. Andai aku bisa seperti Kelinci, pasti aku bisa cepat sampai tujuan. Sayang, aku hanyalah Kura-kura. Lariku pun lamban," keluh Kura-kura sambil melihat bayangannya sendiri di air danau. Ia tertunduk sedih.
Tiba-tiba, di permukaan air muncul bayangan gerombolan burung yang terbang di langit. Kura-kura lantas melihat ke langit. gerombolan burung terbang dengan sangat indah. Mata Kura-kura pun berbinar.
"Bagusnya gerombolan burung itu. Pasti sangat menyenangkan bisa terbang bebas seperti mereka," ucap Kura-kura.
Kura-kura membayangkan dirinya bisa terbang bebas seperti burung. Ia pernah mondengar cerita dari Angsa, bahwa dunia luar sangat indah. Apalagi, jika dilihat dari langit. Tapi, Kura-kura kembali bersedih. Ia sadar, bahwa ia hanya seekor kura-kura. Jangankan terbang, berlari pun ia lamban.
Kura-kura yang sedih itu kernudian menceburkan dirinya ke danau. Namun, tiba-tiba… Dor!!!
Terdengar bunyi ledakan. Sepertinya itu adalah suara tembakan dari pemburu. Tak lama setelah itu, terdengar teriakan meminta tolong.
"Tolong! Tolong!!!" Suara itu berasal dari permukaan danau.
Kura-kura bergegas kembali ke permukaan. Benar saja. Di sana ada burung yang tadi terbang di angkasa. Burung itu tampak kelabakan, karena tak bisa berenang. Mungkin tadi ia terkena tembakan pemburu.
Kura-kura pun berenang mendekat, dan mengangkat burung itu dengan menggunakan cangkangnya. Burung itu dibawanya ke tepi danau.
"Terima kasih, Kura-kura. Kamu memang hebat, bisa berenang. Aku tak tahu apakah aku bisa selamat atau tidak tadi jika tak ada kamu," ucap Burung.
Kura-kura pun tersadar. Semua makhluk memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Burung contohnya. Meski ia bisa terbang bebas, tapi ia tak bisa berenang. Sedangkan Kura-kura meskipun Ia tak bisa terbang, tapi ia bisa berenang bebas.

Hikmah yang dapat dipetik dari Cerita Dongeng Fabel : Impian Kura-Kura adalah Kawan, Tuhan menciptakan makhlukNya dengan kelebihan masing-masing, Jadi, Jangan iri dengan orang lain, Pasti ada keleblhan yang kamu miliki yang tidak dimilikioleh orang lain.

Wednesday, 17 October 2018

Cerita Kancil Dan Gajah

Suatu hari, Gajah sedang mencari-cari Kancil. Ia sangat marah kepada hewan kecil yang akal itu, karena ia sering di bohongi oleh Kancil dan selalu membuat sang Gajah malu di depan hewan-hewan lainnya.
Dengan perasaan yang sangat marah, Gajah terus mencari dan mencari setiap hari. Setiap binatang terus di tanyai mereka. Namun, setiap binatang yang di jumpainya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Mereka sama sekali tidak tahu dimana si Kancil. Gajah pun tidak pernah menyerah untuk mencari si Kancil. Kemarahan Gajah semakin besar.
Suatu hari, udara terasa sangat panas sekali. Semua hewan mencari mencari buah-buahan segar untuk di makan. Begitu pula si Kancil yang sangat cerdik itu. Akhirnya, Gajah dapat menemukan di mana si Kancil.

Karena sangat terkejut si Kancil hanya duduk pasrah. Ia berdiam sejenak, kemudian membuka mulutnya.
‘’ Ampuni aku Gajah, aku sangat terkejut dengan kedatanganmu yang tiba-tiba.’’  Ujarnya.
‘’ Sudah lama aku mencari mu kemana-mana, tapi tidak pernah aku dapat menemukanmu. Tidak di sangka akhirnya aku bisa menemukanmu di sini. Karena kau sudah aku temukan, maka aku akan membunuhmu.’’ Ancam sang Gajah.
Hewan yang besar itu mulai mengibas-ngibaskan belalainya yang panjang, dan siap untuk menangkap si Kancil yang suka bohong itu.
‘’ Ampuni aku Gajah, untuk sekali ini saja. Aku mempunyai sebuah kabar berita yang sangat penting bagimu. Aku akan menceritakan semuanya. Namun, kamu tidak boleh tergesa-gesa membunuhku.’’ Kata Kancil.
‘’ Apa kabar yang sangat penting itu? Apa yang akan kau katakana penting bagiku? Ceritakan segera, sebelum kau kubunuh!’’ Tanya sang Gajah.
‘’ Gajah, aku merasa sangat kesal dan marah, karena ada seekor hewan yang sekarang ini ingin menantang kehebatanmu.’’ Kata si Kancil memperlihatkan rasa kesalnya.
‘’ Siapa yang kamu maksud? Tanya sang Gajah.
‘’ Menurut kabar tersebut, di hutan ini akan terjadi keributan dan akan mengalahkanmu.’’
‘’ Lalu?’’ Tanya Gajah yang amarahnya mulai menurut.
‘’ Kalau kamu tidak keberatan, izinkan saya mencari siapa orang yang sudah berani menantang kamu Gajah dan membawanya ke sini. Setelah itu silahkan kamu membunuh ku kapan saja.!’’ Jawab si Kancil dengan sedih.
Gajah pun mulai termenung sejenak. Cerita si Kancil ia pikir serius.
‘’ Jadi, kapan kamu siap kapan saja akan ku bunuh?’’ Tanya Gajah.
‘’ Iya. Namun,  saya  hanya meminta waktu satu malam. Setelah saya dapat menemukan dan membawanya ke hadapanmu. Saya siap untuk di bunuh.’’ Jawab Kancil dengan tenang.
‘’ Baiklah, kali ini terakhir aku bisa percaya kepada mu. Besok siang, aku akan menunggu di tempat ini, kau mengerti?’’ Tanya sang Gajah member kesempatan terakhir bagi si hewan kecil yang licik.
Seesokan harinya, sebelum siang tiba. Gajah sudah menunggu di tempat yang di janjikan. Gajah itu gampang sekali di bohongi dengan kata-kata manis si Kancil, ia menunggu kehadiran Kancil dengan tidak sabar untuk membunuhnya. Namun, si Kancil sengaja datang terlambat. Ia tahu kebiasaan sang gajah yang tidak suka dengan udara panas.
Akhirnya, Kancil pun tiba di tempat itu. Namun, ia membawa pasukan Semut merah yang sengaja di bawanya untuk membunuh sang Gajah. Gajah menunggu sangat lama dan tertidur lelap di bawah pohon.

Si Kancil tersenyum, rencananya pasti akan berjala lancar. Dalam beberapa menit pasukan Semut merah itu sudah masuk ke telinga sang Gajah. Semut-semut itu menggerogoti otak sang Gajah. Sehingga hewan berbadan besar itu terguling-guling kesakitan dan akhirnya mati bersama dendamnya yang tidak terwujud.
Pesan moral dari Kumpulan Dongeng Cerita Si Kancil dan Gajah adalah sifat mendendam hanya akan merugikan diri sendiri. Saling memaafkan adalah sifat mulia yang akan membawa kebahagiaan.

Cerita Kancil Dan Siput


Pada suatu hari di dalam hutan,ada se ekor kancil sedang berlari-lari,si kancil lalu berpapasan dengan seekor siput di pinggir kali. sikancil yang sombong meledek siput, betapa lambannya jalannya si siput, betapa tak bisa cepatnya si siput berjalan.

Si Kancil dengan sifat angkuhnya bicara kepada si siput
"Siput, beranikah kau adu balap lari denganku?"  Dia tahu siput pasti menolak, karena tak mungkin bisa menang melawannya.

Tetapi di luar dugaan si kancil, sisiput menerima tantangan itu.dan kedua nya pun membuat suatu perjanjian dan menentukan hari dimana keduanya akan lomba balap lari.

Si kancil sangat menantikan hari H perlombaan. Dan selama itu, siput membuat sebuah strategi,siput mengajak teman-teman siput yang lainnya untuk berkumpul dan menceritakan tentang tantangan si kancil kepada dirinya.Siput dan kawan-kawan siput yang lainnya sedang berdiskusi untuk bisa menang dan bisa mempermalukan si kancil.

Begini Strategi nya Cara nya sepanjang tepian sungai siput-siput berbaris rapi, dan Jika kancil memanggil, maka siput yang ada di depan kancil harus menjawabnya,begitu dan begitu sampai garis finish.

Ahirnya hari yang sangat di nantikan si kancil pun tiba.Hampir semua penghuni dalam hutan datang untuk menontonnya.Kancil dan siput sudah bersiap-siap di garis start.

"Apa kalian sudah siap?" tanya pemimpin adu lari kepada Kancil dan siput.
Keduanya pun mengangguk. "Mulai!"

Keduanya langsung lari. Kancil langsung berlari dengan kecepatan penuh.dan setelah beberapa jauh, sikancil mulai kecapean,nafasnya mulai terengah-engah.si kancil berhenti sejenak untuk istirahat sebentar,dia pun memanggil si siput ,

"Put, siput?"panggil kancil kepada siput.

"Ya, aku di sini," sahut siput, bergerak dengan lamban di depan kancil.

Si kancil kaget karena siput sudah berada di depannya,dia tidak jadi istirahat dan si kancil pun langsung bergegas berlari kembali dengan sekuat tenaga.

Kancil pu merasa sangat lelah,mulai kehausan,dan terengah-engah dengan nafas yang seperti hampir habis,kancil berhenti,dan kemudian memanggil si  siput kembali,

si kancil mengira siput berada di belakangnya,tetapi dugaan si kancil salah,si siput tetap menjawab di depan kancil,karena itu memang strateginya siput.

Si kancil berlari kembali,dan begitu seterusnya,sampai akhirnya si kancil kelelahan dan menyerah kepada siput.
Penghuni-penghuni hutan pun terkejut melihat kancil menyerah balap lari dengan siput,
Ahirnya berkat strategi yang sukses si siput menang dalam lomba larinya

Tuesday, 16 October 2018

Cerita Kancil , Kerbau Dan Buaya

Berikut dongeng Si Kancil yang menceritakan kisah Si Kancil Dan Kerbau. Cerita tentang seekor buaya yang menggigit Kerbau tapi kerbau berhasil meloloskan diri dari buaya berkat kecerdikan kancil.

Di hutan terdapat suatu padang rumput luas, dihuni oleh keluarga Kerbau. Mereka memiliki seekor anak Kerbau yang tengah beranjak dewasa. Anak Kerbau memiliki rasa ingin tahu sangat besar. Suatu ketika anak Kerbau melihat sebuah sungai. Ia meminta izin ibunya untuk berjalan-jalan.

"Ibu, aku mau berjalan-jalan di sekitar sungai. Boleh kan bu?" tanya AnakKerbau.

"Boleh anakku, tapi kau harus berhati-hati. Banyak buaya di sungai. Kau jangan mudah percaya buaya nak." ibunya menasehati.

Anak kerbau dengan riang segera pergi menuju sungai untuk bermain. Ia sangat senang melihat ikan-ikan kecil berenang kesana-kemari di sungai. Tiba-tiba saja ia mendengar teriakan minta tolong yang ternyata seekor buaya. Pak Buaya terhimpit oleh sebuah pohon besar yang tumbang. Anak kerbau teringat akan nasehat ibunya agar berhati-hati dengan buaya.

"Tolong aku hai Kerbau yang baik." kata Pak Buaya.

"Ada apa Pak Buaya? Kenapa tubuhmu terhimpit pohon tumbang?" tanya Anak kerbau.

"Pada saat terjadi gempa bumi, tak kusadari ada sebuah pohon besar di dekatku yang tumbang. Jadi aku terhimpit pohon. Tolong lepaskan aku Anak Kerbau baik." Pak Buaya memelas meminta tolong.

"Aku tak mau menolongmu, karena jika engkau terlepas dari pohon itu engkau pasti akan memakanku." Anak Kerbau menolak menolong Pak Buaya.

"Jika engkau tak menolongku sekarang aku pasti akan mati, jadi aku berjanji tak akan memakanmu Anak Kerbau." Pak Buaya memelas.

"Baiklah kalau begitu aku akan menolongmu." kata Anak Kerbau.



Anak Kerbau kemudian dengan susah payah mendorong batang pohon besar. Pak Buaya akhirnya terlepas dari himpitan pohon. Setelah terlepas, tiba-tiba saja mulut Pak Buaya menggigit kaki Anak Kerbau. Anak Kerbau tentu saja kaget.



"Aduh...Apa-apaan Pak Buaya? Kenapa menggigitku? Kau ingkar janji Pak Buaya! Aku menyesal telah menolongmu." Anak Kerbau marah.

"Diamlah Anak Kerbau bodoh. Aku sudah tiga hari tidak makan. Silahkan kau tanya binatang lain, mereka pasti akan melakukan hal sama jika ada di posisiku." Pak Buaya tidak perduli.



Kebetulan saat itu ada sebuah tikar lapuk hanyut di sungai. Anak Kerbau meminta pendapatnya setelah menceritakan pada tikar kejadian yang menimpanya. Tapi tikar justru membela Pak Buaya.

"Itu sudah nasibmu hai Anak Kerbau jadi terimalah. Waktu aku masih dalam kondisi baru, selalu dipakai oleh manusia. Tapi sekarang lihatlah aku dibuang di sungai begitu saja." kata Tikar Lapuk.

Tidak lama ada keranjang tua hanyut di sungai. Anak Kerbau menanyakan hal sama pada keranjang tua tapi jawaban keranjang tua sama dengan jawaban tikar lapuk.

Kemudian muncul seekor bebek tua. Setelah Anak Kerbau menceritakan masalahnya pada bebek tua, lagi-lagi si bebek justru membela buaya. Bebek tua mengatakan ia melarikan diri karena hendak disembelih oleh majikannya.


Setelah bebek tua pergi, munculah Si Kancil. Anak Kerbau menceritakan masalahnya pada Si Kancil. Pak Buaya tenang-tenang saja karena yakin Si Kancil pasti membelanya. Si Kancil mengatakan ia harus tahu kejadian sebenarnya. Ia meminta Pak Buaya & Anak Kerbau agar mengulang kembali kejadiannya dari awal. Pak Buaya dan Anak Kerbau setuju. Pak Buaya melepaskan gigitannya pada kaki Anak Kerbau. Kemudian Anak Kerbau mendorong kembali batang pohon ke tubuh Pak Buaya.


"Oh jadi begitu kejadian awalnya." kata Si Kancil.

"Iya betul Kancil." kata Pak Buaya.

"Sekarang giliranmu hai Anak Kerbau! Lepaskan batang pohon ini." kata Pak Buaya pada Anak kerbau.

Mendengar itu Si Kancil segera membisiki Anak Kerbau agar cepat melarikan diri. Anak Kerbau sangat senang mengetahui bahwa ini hanyalah akal Si Kancil untuk membantunya melarikan diri dari Pak Buaya. Mereka berdua segera berlari kencang meninggalkan Pak Buaya yang tidak bisa bergerak terhimpit pohon. Mengetahui hal tersebut Pak Buaya sangat marah.

"Hai Anak Kerbau! Hai Kancil! Mau kemana kalian? Kurang ajar kau Kancil ternyata ini tipu muslihatmu." Pak Buaya sangat marah.


"Rasakan akibatnya Pak Buaya! Kau tak bisa dipercaya. Sudah dibantu tapi malah mau memakan Anak Kerbau. Selamat tinggal Pak Buaya." teriak Si Kancil.

Dongeng Kancil Melawan Singa


Suatu ketika, di hutan  Kancil bertemu dengan Singa. Sang kancil sudah lama ingin menundukkan raja hutan itu, tapi belum pernah tahu bagaimana cara membunuhnya. .

"Hei kancil, kenapa kamu masuk ke wilayahku. Hanya dengan satu taring ini, perutmu sudah sobek,"ujar Singa dengan sombongnya, sambil menunjukkan taringnya yang putih dan menyeramkan itu.

Sang Kancil cerdik tidak gentar mendengar ancaman Singa. Dia dengan tenang berbicara di depan binatang yang sangat kejam itu.

"Kek!", demikian kancil memanggi Singa. "Tadi ada seekor binatang besar dan katanya dialah raja di hutan ini," sambung Kancil memberanikan diri.

Kancil sudah menduga, Singa akan sangat marah. Berita yang diucapkan Kancil benar saja membangkitkan amarah sang raja hutan. .

"Hei, benar kamu Kancil. Kamu bohong!. Kalau benar, kamu harus membawa saya ke tempat binatang itu. Tidak ada raja di hutan ini selain saya. Saya;ah raja hutan," katanya sambil melangkah mendekati kancil.

Kancil sedikit mundur, karena mulai gentar. Tapi, namanya Kancil, selalu punya akal. Diapun berfikir sejenak dan mengatur kata-katanya.

"Kek! Ada. Tidak jauh dari sini!. Saya akan membawa kakek menemui binatang itu" ujar sang Kancil mantap.

Keduanya berjalan menuju sebuah perigi (sumur) yang berdiameter kira-kira dua meter. Perigi itu dalam dan berisi air kira-kira satu meter ke permukaan. Tidak berapa lama keduanya sudah tiba di perigi itu.

"Dimana binatang itu Kancil?. Saya tidak melihatnya. Kalau tidak ketemu, kamu akan kumakan,"ujar Singa mulai geram.

Di sekelilingnya dia tidak melihat ada tanda-tanda binatang besar, yang disebut Kancil sebagai raja hutan.

"Itu di dalam perigi Kek. Nanti dia akan muncul, kalau Kakek sudah melihatnya ke dalam" kata Kancil.

Kancil kemudian mengajak Singa mendekat ke perigi itu.

"Itu di dalam Kek. Coba lihatlah, kan sudah mulai mau menerkam Kakek" katanya, sambil mengajak Singa lebih dekat ke lobang perigi itu.

Singa melihat bayangannya sendiri di dalam air. Kalau Singa memandang ke dalam, bayangan itu  bergerak mendekatinya seolah mau menerkamnya.

Tanpa pikir panjang, Singa langsung menerkam bayangan binatang yang mirip seperti wajahnya itu. Singa mengira itulah raja hutan yang akan menjadi saingannya, seperti diceritakan Kancil.

"Rush........,"bunyi air memecahkan keheningan di hutan itu, akibat terkaman singa dan air didalam sebagian menyembur Kancil yang berdiri di samping Singa. Kancil sedikit terkejut, dan kemudian bersorak sorai, karena telah berhasil melumpuhkan Singa. 

"Hore....Singa bodoh. Percuma saja badanmu besar, taringmu kuat. Kesombongan dan kebodohanmu membuatmu celaka!" ujar Kancil, langsung meninggalkan Singa sendirian menunggu maut.     

Singa yang bodoh itu akhirnya tenggelam di sumur dan tidak mampu mengeluarkan dirinya. Akhirnya sang Raja Hutan mati pelan-pelan, menghirup air sumur tanpa mampu membalikkan tubuhnya lagi.

Kekuatan besar, tanpa memakai otak, bisa dikalahkan kekuatan kecil yang memakai otak dengan bijaksana.

Popular Posts